Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Masjid Agung Purwakarta


Berdiri dengan agungnya, melambangkan citra kota Purwakarta yang religious, adalah Masjid Agung Purwakarta. Meskipun sudah melalui renovasi beberapa kali, bentuk aslinya tetap dipertahankan. Renovasi yang dilakukan secara bertahap, bertujuan untuk menyesuaikan dengan jumlah masyarakat yang semakin meningkat setiap tahunnya.
Lokasi:  Jl. Alun-alun Barat, Kampung Kaum, Desa Cipaisan, Kecamatan Purwakarta
Koordinat : 6°33'20"S   107°26'27"E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah:
Fasilitas:
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:
Informasi Lebih Lanjut:

Sumber : disparbud.jabarprov.go.id

Makam Keramat Beji


Makam/Petilasan Mbah Raden Wujud Beji, merupakan bukti sejarah kehadiran tentara Islam yang banyak ditemukan di  banyak tempat di Depok. Makam Keramat Beji/Petilasan ini terletak di Jalan Kemiri Muka, Desa Kramat (Kramat Jaya), Kecamatan Beji. Secara geografis terletak pada koordinat 106° 48'614" BT dan  06°23'089" LS dengan ketinggian 324 m di atas permukaan laut.
Selain makam/ petilasan Mbah Raden Wujud Beji, di dalam sebuah bangunan yang dinaungi oleh kerimbunan pohon beringin, tersimpan peninggalan beberapa jenis senjata tentara Islam (Banten). Koleksi senjata tersebut tersusun rapi di samping petilasan Mbah Raden Wujud Beji. Pada dinding di dalam bangunan makam tersebut tergantung beberapa untaian kata yang berisikan nasehat pernah diucapkan oleh Mbah Raden Wujud Beji. Pada tanggal 14 bulan Maulud, bangunan makam ini ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, seperti dari Banten dan Cirebon.

Makam raden Saleh



Makam mudah dicapai, dengan kendaraan umum roda empat, dan dilanjutkan masuk jalan (gang) kurang lebih 100 m. Lingkungan makam berbatasan dengan di  sebelah selatan jalan Raden Saleh (Jalan Pahlawan) di sisi selatan, di bagian barat dan timur berbatasan dengan rumah penduduk, dengan luas areal makam  ¼ hektar. Makam Raden Saleh berada di sisi Jalan Pahlawan, Desa Bondongan, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan dan terletak pada garis koordinat  106º 47' 854" BT dan  06° 36'592" LS. 
Pada gerbang depan lahan terdapat 2 makam, yaitu makam Raden Saleh dan sisi timurnya terdapat makam istrinya, Raden Ayu Danurejo (putri patih dalam Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat). Ke dua makam pada sejajar dengan latar dinding peringatan Makam Raden Saleh yang dibangun pada tanggal 7 September 1953. Di belakang dinding latar terdapat 7 makam saudaranya. Sekarang sedang dipugar lingkungan makam maupun latar dan di sekitar lokasi dibangun galeri untuk menyimpan/memamerkan lukisan hasil karya Raden Saleh. Pemugaran ini dilaksanakan oleh Proyek Pembangunan Fasilitas Publik  Makam Raden Saleh.

Makam Godog


Makam Godog terletak di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan. Berada pada Koordinat: 07º 15’ 083” LS 107º 57’ 258” BT. Makam Godog dari Terminal Cileunyi Bandung ke Terminal Ciawitali Garut dapat  dicapai dengan waktu ± 1,5 jam Kemudian menuju lokasi dengan menggunakan angkutan kota satu kali jurusan Karangpawitan. Melalui Jalan Raya Karangpawitan ± 5,5 Km masuk ke dalam dengan menggunakan ojeg yang bertarif Rp 10.000,- sampai ke tempat parkir. Untuk mencapai lokasi makam hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki ± 20 menit dengan jarak ± 1 Km.
Sunan Godog atau Kanjeng Sunan Rahmat Suci atau Kiansantang adalah penyebar agama Islam pada akhir abad ke 15 - awal abad ke-16 di daerah Timbanganten (sekarang wilayah Kecamatan Samarang, Tarogong, Kadungora dan Leles). Menurut tradisi lisan yang berkembang di daerah Garut, Sunan Godog dipercaya sebagai tokoh salah seorang anak Prabu Siliwangi (dari Nyai Putri Subanglarang) yang beragama Hindu menurut cerita tradisi lisan. Kemudian diceritakan bahwa Sunan Godog ketika kembali dari tanah suci Mekah membawa sewadah tanah. Sepanjang perjalanan menelusuri daerah-daerah di Indonesia, tanah tersebut berceceran. Pada setiap tempat ketika tanah itu jatuh pada masa kemudian menjadi tempat lahirnya para wali. Pada saat menuju Gunung Suci, tanah yang dibawanya bergoyang atau godeg. Dari sinilah nama Godog lahir. Sunan Rahmat Suci pun terkenal sebagai Sunan Godog. 

Makam Tjut Nya Dien


Tjut Nya Dien adalah tokoh nasional pejruangan rakyat Aceh yang menentang kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia. Akibat dari peranannya tersebut, setelah beliau ditangkap menghadapi resiko berupa pembuangan dan pengasingan di Sumedang. Beliau akhirnya menetap di Sumedang dan setelah meninggal dimakamkan di Sumedang pula. Selama pengasingan, beliau menempati rumah panggung berdinding bilik yang terletak di Jalan Pangeran Aria Suriatmaja. Beliau menghabiskan akhir hidupnya selama 3 tahun (1905 – 1908) di rumah ini.
Makam Tjut Nya Dien terletak di bagian barat bukit kecil di bagian tenggara Kota Sumedang. Bukit tersebut adalah Gunung Puyuh yang difungsikan sebagai kompleks pemakaman bagi para bupati keturunan Prabu Geusan Ulun dan keluarganya. Lokasi makam terletak di sisi jalan raya beraspal sehingga sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Pada bagian timur makam terdapat tempat parkir.
Pada bagian timur kompleks makam terdapat ruas jalan dan areal persawahan di seberang jalan. Sebelah selatan makam tedapat pemukiman dan persawahan. Sebelah barat masih berupa persawahan. Sementara pada sisi utara terdadapat pemukiman. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º51’48” LS dan 107º54’60” BT.
Makam Tjut Nya Dien dapat dicapai setelah melewati kompleks pemakaman para bupati dan keluarga keturunan Prabu Geusan Ulun yang terbagi menjadi beberapa blok. Kompleks makam dikelilingi oleh pagar keliling dengan pintu terletak pada sisi timur. Setelah melewati beberapa blok sampailah di makam  Tjut Nya Dien.  Makam tersebut dibatasi oleh pagar keliling dan pintu terdapat pada sisi timurnya. Makam Tjut Nya Dien berorientasi utara selatan ditandai adanya jirat dan nisan serta dilengkapi dengan bangunan cungkup tanpa dinding.
 
Lokasi:  Gunung Puyuh, Kota Sumedang
Koordinat : 6° 51' 29" S, 107° 54' 36" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  -
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -
Informasi Lebih Lanjut: -
 
Sumber :  disparbud.jabarprov.go.id


Jumat, 19 April 2013

Makam Ki Bagus Jabin


Ki Bagus Jabin adalah Raden Krama Wangsa, putra Demang Surapersada Bin Ki Bagus Urang atau Raden Surajatikusni, Putra Sinuhun Kasepuhan Cirebon. Ketika terjadi Perang Bantarjati pada tahun 1809-1811 disepanjang daerah Pantai Utara, setelah itu terjadi kesepakatan damai dan Kerjasama antar pihak kompeni dan Kesultanan Cirebon, Ki Bagus Jabin dan para Pemuda tidak setuju karena Kompeni terkenal dengan kelicikannya. Ketidaksetujuan Ki Bagus Jabin dipolitisir oleh Kompeni sebagai pembangkangan dan Pemberontakan kepada Penguasa, akhirnya Sinuhun Sultan Cirebon memerintahkan penangkapan, tetapi karena Pertalian Keluarga antara Abdi Dalem dan para Keluarga Ki Bagus Jabin memutuskan untuk meninggalkan Cirebon, cara ini demi menjaga Perang Saudara dan Keutuhan Keluarga. Dalam perjalanan meninggalkan Cirebon, sampailah beliau di Daerah Cikampek Pustaka dan Wafat serta dimakamkan di daerah ini, sampai saat ini banyak yang ber Ziarah dan Tawasulan, untuk mengenang dan mendo'akan Ki Bagus Jabin sebagai Penyebar Agama Islam di Karawang. Lokasi Makam Ki Bagus Jabin terletak di Desa Cikampek Pusaka, Kecamatan Cikampek 26 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang.
 
sumber : www.disbudpar-karawang.com 

Masjid Kubah Mas


Masjid Dian Al Mahri ini diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan sholat Idul Adha 1427 H oleh pendirinya Ibu Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs H. Maimun Al Rasyid. Masjid ini juga disebut sebagai Masjid Kubah Emas, sesuai dengan ciri khasnya yaitu kubahnya yang berlapis emas.
 
Masjid ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan : pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, kedua gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, yang ketiga gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.

Patilasan Sunan Kalijaga


Di Jalan Pramuka berjarak sekitar 1 km kearah barat daya Terminal Bus Harjamukti pada sisi barat Kali Sipadu terdapat Petilasan Sunan Kalijaga. Lokasi ini sangat mudah dicapai dengan berbagai kendaraan, ± 5 km dari pusat kota Cirebon dengan waktu tempuh ± 20 menit. Lokasi yang berada di tengah pemukiman penduduk Kampung Kalijaga, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti ini tepatnya berada pada koordinat 06º 44' 891" Lintang Selatan dan 108º 33' 083" Bujur Timur. 
Kawasan komplek Petilasan Sunan Kaligaga luasnya ± 20.000 m2. Kawasan ini dilalui dua aliran sungai, yang masing-masing mempunyai dua sampai tiga nama yang berbeda. Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Mesjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dam cuci pakaian, dahulu kali ini juga dapat digunakan untu wudlu. Pada kawasan itu terdapat bangunan patilasan, sumur kuno, mesjid keramat, makam dan selebihnya berupa semacam hutan lindung yang dihuni kera.

Patilasan Pangeran Drajat


Kembalilah ke masa silam sejenak. Pada zaman dahulu, Patilasan Pangeran Drajad  adalah tempat persinggahan dan bermukim Pangeran/Sunan Drajat di Cirebon dalam persiapannya untuk melakukan perebutan Sunda Kelapa (Batavia) dengan para wali lainnya di tahun tahun 1526. Perhatikan bentuk sebuah makam dari susunan bata merah yang dicat putih dengan nisan dari batu andesit berukir corak kembang. Patilasan ini terletak di antara makam Nyi Mas Ageng Pancuran dan Pangeran Sifat Luhung, yang mana keduanya merupakan dua orang santri yang meneruskan syiar Islam yang telah dirintis oleh Pangeran Drajad. Ketiga makam ini ditutup kain putih dan dilindungi dengan kelambu putih serta dinaungi oleh dua cungkup. Anda dapat mengunjungi makam ini banyak bersama para peziarah lainnya pada hari Rabu Pon, Jum’at Kliwon, dan pada puncaknya di bulan Maulud.
 
Lokasi: Jl. Pangeran Drajad, Gg. Mesjid, Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi
Koordinat : 6° 44' 38" S, 108° 33' 42" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  -
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -
Informasi Lebih Lanjut: -
 
Sumber :  disparbud.jabarprov.go.id

Petilasan Prabu Siliwangi


Petilasan Prabu Siliwangi terletak di Kampung Pajajar, Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º49’38” LS dan 108º20’30” BT. 
Hutan Lindung Patilasan Prabu Siliwangi berada di Kelurahan Pajajar, Kecamatan Rajagaluh dengan luas mencapai +3 Ha yang dibangun pada tahun 2000/2001. Jarak dari pusat Kota Majalengka menuju lokasi objek wisata  +21km. Patilasan Prabu Siliwangi pada zaman dahulu merupakan suatu tempat peristirahatan Prabu Siliwangi dan konon katanya menurut masyarakat sekitar merupakan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi. 
Dalam kawasan wisata ini terdapat dua talaga (Talaga Emas dan Talaga Pancuran) yang dianggap airnya suci oleh masyarakat sekitar dan pengunjung, sehingga sebelum melakukan ritual di patilasan tersebut pengunjung diharuskan mandi bersih di dua talaga tersebut. 

Makam Syekh Quro


Karawang pada masa Islam juga merupakan kawasan penting. Pelabuhan Caravam yang sudah eksis sejak masa Kerajaan Sunda tampaknya terus berperan hingga masa Islam. Salah satu situs arkeologi dari masa Islam di Karawang adalah makam Syech Quro. Menurut tulisan yang tertera pada panil di depan komplek makam, Nama lengkap Syech Quro adalah Syech Qurotul Ain. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syech Quro adalah seorang ulama yang juga bernama Syeh Hasanudin. Beliau adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syech Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syech Jamaluddin serta Syech Jalaluddin ulama besar Mekah. Pada tahun 1418 datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon. Tidak lama di Muara Jati, kemudian pergi ke Karawang dan mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa letak bekas pesantren Syech Quro berada di Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari, Karawang. Di Karawang dikenal sebagai Syech Quro karena beliau adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syech Quro datang di Jawa pada 1416 dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming).

Makam Sunan Gunung Djati


Kompleks makam Astana Gunung Jati berada di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara pada pinggir jalan raya Cirebon – Indramayu dari kota Cirebon berjarak sekitar 5 km, tepatnya pada koordinat 06º 40' 256" Lintang Selatan dan 108º 33' 563" Bujur Timur. Luas wilayah kompleks makam adalah ± 36.350 Ha yang terdiri dari 23,010 ha tanah desa dan 13,340 ha tanah keraton. Batas wilayah kompleks makam di sebelah utara adalah Desa Kalisapu, sebelah timur persawahan, sebelah selatan Desa Jatimerta, dan sebelah barat jalan raya. Lingkungan pada kompleks makam adalah hutan jati yang disebut Alas Konda. Geomorfologi daerah berupa pedataran bergelombang.
Kompleks makam Astana Gunung Jati merupakan kompleks makam dengan tokoh utama yang dimakamkan adalah Syekh Datu Kahfi. Untuk menuju makam Syekh Datu Kahfi dapat ditempuh melalui jalan berundak berplester semen dari sudut barat laut dan tenggara. Dari gerbang utama yang berada di barat laut, jalan berundak sedikit berkelok ke kiri kemudian sedikit menanjak terdapat percabangan jalan yaitu lurus dan belok ke kanan. Jalan yang lurus mendatar menuju cungkup makam Syekh Datu Kahfi. Sebelum memasuki cungkup melewati gerbang gapura candi bentar. Setelah melawati gapura bentar selanjutnya jalan menuju cungkup makam tersebut berpagar tembok. Cungkup makam berdenah empat persegi panjang menghadap ke barat. 

Sumur Tujuh Cibulan


Nama Cibulan berasal dari kata Cai Katimbulan yang berarti air yang timbul . Cai Katimbulan merupakan tempat hilangnya Putri Buyut Manis yang akan dijodohkan dengan Putra Buyut Talaga yang kemudian menghilang di tempat ini karena ketidaksetujuan Kepada Putra Buyut Talaga.
 
Di daerah ini terdapat tujuh sumur (dikenal dengan sebutan Sumur Tujuh) yang merupakan tempat patilasan Prabu Siliwangi yang digunakan untuk bersuci ketika bersemedi dan juga merupakan salah satu tempat bersejarah dalam penyebaran Islam di Kuningan melalui kegiatan para Wali Songa.
 
Di Kolam Cibulan juga terdapat mitos tentang adanya kepiting emas (kepiting yang berkulit warna emas), yang tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, tetapi bagi orang tertentu yang melihatnya, maka cita-citanya akan terkabul.

Makam dan Gua Pamijahan


Secara administratif terletak di Kampung Pamijahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong. Secara astronomis terletak pada koordinat 49 M 0177650 dan UTM 9162411.
Situs terletak di daerah pedesaan yang arealnya dimanfaatkan sebagai tempat perumahan penduduk, pasar, sawah, ladang, dan hutan. Areal tersebut menempati lahan berbukit dan bergelombang. Situs termasuk cukup ramai didatangi pengunjung. Untuk mencapai ke lokasi dijangkau dari jalan raya bisa hanya bisa dicapai dengan jalan kaki menuju makam sekitar 500m, sedangkan menuju goa sekitar 2 km.
Pamijahan merupakan goa alam dan makam penyebar agama Islam. Makam Waliyullah Safardi, keluarga dan pengiringnya. Terletak dalam bangunan empat persegi panjang. Di luar bangunan di sekitarnya terdapat makam-makam keluarga. Makam-makam dalam bangunan lapisan pertama berjumlah 24, kemudian dalam ruangan lapisan kedua berjumlah 11, dan lapisan ketiga merupakan makam utama yang tertup dinding lagi.